Rabu, 25 Maret 2026

Ruang Kontemplasi: Jiwa Yang Abadi

 


Mengejar Jejak Pendidikan

Puisi oleh: Aisyah

Kan ku kejar pendidikan setinggi langit
Kan ku gapai cita-cita setinggi harapan
Dengan langkah kecil yang penuh tekad
Ku susuri jalan penuh tantangan

Meski lelah sering menghampiri
Dan ragu datang silih berganti
Namun mimpi tak akan berhenti
Terus hidup di dalam hati

Ilmu adalah cahaya hidupku
Menerangi gelapnya jalanku
Membimbing setiap langkahku
Menuju masa depan yang kutuju

Tak peduli seberapa sulit jalan ini
Tak gentar meski harus sendiri
Karena aku percaya dalam diri
Usaha tak akan mengkhianati

Kan ku ukir jejak perjuangan
Dalam setiap tetes pengorbanan
Hingga suatu hari nanti
Aku berdiri dalam keberhasilan


Dinamika Ekonomi 

Puisi oleh: Aldi

Segala kebutuhan harus terpenuhi,
Uang dan barang saling bertukar hati.
Harga naik turun seperti biasa,
Mengatur pengeluaran agar tak sia-sia.

Bekerja keras mencari penghasilan,
Menabung sedikit untuk masa depan.
Bijak memilih mana yang penting,
Agar hidup tenang dan selalu cukup.

Matahari Bersinar Tak Rata Di Seberang Dunia

Puisi oleh: Elma Aulia 

Jangan tawarkan aku teori kemakmuran,
sedang perutku sibuk merapalkan mantra kelaparan.
Apa yang kau ketahui tentang keadilan pasar?
Sedang nasibku kau gantung di bursa saham yang kasar.

Kita hidup di bawah langit yang sama, katanya,
namun kulihat surga dan neraka berbagi kasta.
Di tanganmu, angka-angka tumbuh menjadi raksasa,
di pundakku, hutang negara menjelma rantai dosa.

Matahari bersinar tak rata di seberang dunia.
Di timur ia membakar kulit, memaksa keringat diperas habis,
di barat ia menghangatkan kolam renang dengan sisa-sisa tangis.

Doa kami adalah grafik yang selalu menukik,
mendamba belas kasih dari sistem yang mencekik.
Agar kertas-kertas tagihan tak lagi mencegat nafas,
atas mimpi-mimpi yang kau gadaikan penuh culas.

Kita mengusik takdir dengan tangan-tangan serakah,
lalu menerangi kemiskinan dengan kembang api kemewahan.
Menelaah makna rugi di atas tumpukan laba,
mencipta inflasi tuk dinikmati para penguasa.
Lalu mencari adil dalam neraca yang tak pernah sama,
berakhir menggotong nyawa ke hadapan Kuasa.
Di suatu pagi, dengan matahari terbelah tak rata—
bersinar dari seberang dunia, meninggalkan kami dalam jelaga.




Langkah menuju harapan

Puisi oleh: Laras Sati

di pagi yang masih berembun, langkah kecil menuju harapan, tas di pundak penuh impian, menyusuri jalan masa depan. 

pendidikan bukan sekedar angka, bukan hanya deretan huruf semata, ia adalah lentara jiwa, yang menuntun arah manusia.
 
pendidikan bukan sekedar nilai,
tetapi mimpi yang ingin ku kejar,
meski lelah datang ,aku tetap berjuang dengan hati yang sabar.

dari buku kita belajar bermimpi, 
dari ilmu kita berani berdiri, 
menggapai langit setinggi mungkin, tanpa takut jatuh kembali.

di bangku sekolah kita belajar, 
tentang rumus sejarah panjang, namun diluar itu kita mengerti, arti sabar saat keadaan tak seimbang


Pendidikan Sebagai Bekal

Puisi oleh: Rizaldy Padlu 


Pendidikan itu bukan cuma soal ijazah

Ataupun pinter menghapal rumus

Ini soal buka wawasan

Biar kita ngerti cara berpikir

Dan tau mana jalan yang baik untuk ditempuh

Ilmu itu harta yang engga bakal hilang

Bawa kemana-mana selalu berguna

Jadi bekal paling kuat buat hadapi hidup


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manusia di Balik Penta Narasihttps://pentanarasi.blogspot.com/2026/03/manusia-di-balik-penta-narasi.

Manusia di Balik Penta Narasi

Aisyah  "Mimpi adalah arah, dan aku adalah langkah yang tak akan berhenti mengejarnya." Baginya, hidup bukan sekadar menjalani har...