Aku Tidak Ingin Menyerah
Cerpen oleh: Aisyah
Setiap pagi, aku selalu berusaha bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena aku rajin, tapi karena aku tahu aku tidak punya banyak pilihan selain terus berusaha.
Hidupku tidak selalu mudah.
Aku berasal dari keluarga sederhana. Kadang, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja harus berpikir dua kali. Ada saat di mana aku ingin sesuatu seperti teman-temanku, tapi aku memilih diam, karena aku tahu kondisi orang tuaku.
“Aku harus ngerti keadaan,” kataku dalam hati. Meski begitu, aku tidak pernah ingin menjadikan keadaan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi.
Bagiku, sekolah bukan hanya kewajiban, tapi harapan.
Di situlah aku merasa punya kesempatan untuk mengubah hidupku. Setiap hari aku datang ke sekolah dengan satu tujuan—belajar sebaik mungkin. Aku mungkin tidak selalu menjadi yang terbaik, tapi aku selalu berusaha untuk tidak menyerah.
Kadang aku merasa lelah. Saat tugas menumpuk, saat pelajaran terasa sulit, atau saat pikiranku penuh dengan masalah di rumah. Tapi aku tetap mencoba bertahan.
Aku sering berpikir, “Kalau bukan aku yang berjuang, siapa lagi?”
Suatu hari, guruku mengumumkan tentang adanya program bantuan pendidikan bagi siswa yang membutuhkan dan berprestasi.
Saat itu, aku hanya diam. Aku ingin ikut, tapi aku takut berharap terlalu tinggi. Namun di sisi lain, aku tahu… ini adalah kesempatan.
Sejak hari itu, aku mulai belajar lebih serius. Aku mencoba memahami pelajaran lebih dalam, meskipun kadang harus belajar sendiri tanpa bantuan. Malam-malamku lebih sering diisi dengan buku daripada hal lain.
Lelah? Iya.
Menyerah? Hampir.
Tapi setiap kali aku merasa ingin berhenti, aku selalu ingat wajah orang tuaku. Aku ingin membuat mereka bangga. Hari pengumuman itu akhirnya tiba. Aku berdiri di antara banyak siswa lain, dengan perasaan campur aduk. Takut, gugup, dan berharap dalam diam.
“Nama yang mendapatkan bantuan pendidikan adalah…” Aku menunduk.
“…aku.” Aku terdiam.
Rasanya seperti tidak nyata. Air mataku langsung jatuh tanpa bisa ditahan. Untuk pertama kalinya, aku merasa semua perjuanganku tidak sia-sia. Aku pulang dengan langkah yang berbeda. Lebih ringan, tapi juga penuh haru.
“Ibu… aku dapat bantuan sekolah,” ucapku pelan.
Ibu hanya tersenyum, tapi aku tahu di balik itu ada rasa bangga yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hari itu aku belajar satu hal. Bahwa keadaan ekonomi bukanlah akhir dari segalanya. Selama aku masih mau berusaha, selama aku tidak menyerah. Aku tetap punya harapan.
Dan sekarang aku tahu, jalan ini mungkin tidak mudah. Tapi aku tidak akan berhenti.
Karena aku ingin membuktikan, bahwa dari keterbatasanpun aku bisa meraih masa depan.
Tamat
Rasa sakit yang tidak bisa dikembalikan seperti semula.
Cerpen oleh: Aldi
Di SMP Permata Laut, seorang anak yang bernama Aldra sedang dipukuli oleh teman sekelasnya, di sudut ruang kelas. Mereka menendang, memukul, dan menghinanya yang sudah tergeletak tak berdaya.
"Hahaha! seorang sampah sepertimu memang pantas diperlakukan seperti ini!"
Orang yang tertawa itu adalah Rija, anak kepala sekolah sekaligus salah satu orang yang merundung Aldra setiap hari.
Semua murid yang berada di kelas hanya bisa menatapnya dengan kasihan, bahkan seorang guru yang melewati kelas mereka hanya melirik sesaat sebelum melanjutkan langkahnya. Seolah-olah, mereka berpura-pura tidak melihat atas apa yang terjadi pada Aldra. Waktu pun berlalu sengan cepat, dan bel pulang sekolah berbunyi. Mendengar bel berbunyi, Aldra cepat-cepat memasukkan buku dan pulpennya ke dalam tas.
"Baiklah semuanya, pelajaran hari ini sudah selesai. Jadi sampai jumpa besok pagi. Guru itu berdiri dan meninggalkan kelas. Murid lainnya juga meninggalkan kelas dengan cepat, menyisakan Aldra dan Rija bersama gengnya di kelas.
"Apa? kenapa kalian menghalangi jalan?" Saat Aldra bertanya, Rija berjalan mendekat dan langsung meninju perut Aldra dengan kuat.
"Kugh..."
"Jika kau mau pulang, maka berjuanglah pecundang! Hahaha!!" Rija dan gengnya tertawa keras, meninggalkan Aldra yang kesakitan sendirian di dalam kelas.
"Mengapa...!? Dunia ini terlalu kejam padaku! Mengapa...!?" Aldra berteriak.
Setiap kata yang dia ucapkan berisi rasa kesedihan yang bercampur dengan kemarahan karena tidak bisa melawan. Dia memegang perutnya yang kesakitan sambil bersusah payah berjalan keluar kelas. Sesampainya di rumah, dia mengambil tali yang cukup panjang dan langsung pergi ke kamarnya.
Wajahnya dipenuhi keputusasaan yang sangat mendalam, bahkan matanya juga tidak lagi bercahaya seolah-olah dia bersiap untuk bunuh diri. Ketika dia siap untuk mengakhiri hidupnya dengan menggantungkan dirinya pada seutas tali, dia tiba-tiba berhenti dan menghentikan tindakannya.
"Tidak... Aku tidak selemah itu untuk bunuh diri."
Bertahun-tahun kemudian, Aldra menjadi seorang bos di sebuah perusahaan besar. Karena kerja keras dan kepintarannya dalam mengembangkan perusahaan kecil itu menjadi sebesar sekarang. Tapi karena dia mengalami pembulian ketika SMP, sifatnya berubah menjadi dingin dan sangat
tenang.
Bagaimanapun, dia mencoba melupakan ingatan itu, tapi ingatan itu tetap membekas di hatinya. Seolah seperti kertas yang dirobek lalu disatukan kembali, meski memiliki bekas yang tidak lagi
menyatu sempurna seperti kertas pada umumnya.
Tamat
Kahiyang Terbang Ke Neraka
Cerpen oleh: Elma Aulia
Apa jadinya jika matahari berhenti menyinari dunia? Apakah manusia akan berubah menjadi kunang-kunang dan berbondong-bondong mencuri sinarnya? Atau justru manusia menjadi tumbuhan yang menjalar, tidak diinginkan, hanya mengais belas kasihan di bawah kaki-kaki kokoh pemilik tanah?
Pertanyaan itu pernah aku tanyakan pada mamak, tapi mamak tak memiliki banyak pengetahuan. Mamak tak merasakan bangku sekolah sehingga pertanyaan-pertanyaan ku hanya angin yang tak menemukan pusaran. Ia hanya mengelus kepalaku dengan senyuman yang tak ku mengerti, mungkin mamak sudah tahu bahwa aku akan menjadi tumbuhan menjalar. Tumbuhan tidak berharga, sekedar hama bagi para penguasa.
Hari ini, matahari masih bersinar terang di langit, tapi sinarnya terbelah tidak rata. Matahari hanya menyinari seberang desa yang dipenuhi rumah-rumah besar milik penguasa. Sementara di sini, di sela-sela kukuku yang kotor, hanya ada kegelapan yang pekat. Kegelapan yang sama saat aku melihat Bapak dihakimi di kebun jagung, dengan tubuh yang remuk dan kepala yang ditebas. Bapak hanya ingin menjadi kunang-kunang yang mencuri sedikit cahaya untuk perut kami yang kosong, tapi dunia lebih suka melihatnya mati sebagai pencuri daripada hidup sebagai manusia.
Maka, biarkan aku berhenti mengais belas kasihan.
Di hadapanku ada minuman manis yang sanggup membawaku pergi. Aku tidak butuh surga yang dijanjikan namaku sendiri. Aku ingin terbang menuju neraka. Aku ingin tinggal di tempat panas yang menjauhkan ku dari dingin yang menimang tubuhku di sepanjang malam. Aku ingin tempat yang riuh, dipenuhi teriakan orang-orang kecil yang mungkin didengar oleh Tuhan.
Aku tidak ingin menjadi tumbuhan atau kunang-kunang yang tidak tahu malu.
“Ah, dasar matahari keparat!” Ingatan-ingatan kotor itu kembali menyeruak dalam kepalaku.
Bau amis itu kembali. Bukan bau racun yang kutelan, tapi bau karat dari parang yang diayunkan tepat di bawah terik matahari pukul dua siang itu. Aku berdiri di balik pohon pisang yang layu, menyaksikan bagaimana matahari seolah sengaja menerangi setiap detail kengerian itu tanpa belas kasihan.
Bapak tersungkur di atas tanah kering. Di sampingnya, dua tongkol jagung berserakan seperti dua butir emas yang seharga dengan nyawa. Aku melihat bagaimana parang itu berkilat, lalu sebuah gerakan cepat yang memutus napas bapak. Lalu terbanglah bapak menemui mamak di surga.
Aku mencoba bersuara. Aku datang ke kantor polisi dengan baju kusut yang ditambal setiap lobangnya. Aku bicara soal hak asasi, soal perut yang lapar, soal hukuman yang seharusnya adil.
“Bapakmu yang salah, kenapa dia mencuri?” kata seorang petugas sambil terus asyik mengupil, bahkan tanpa melihat mataku yang bengkak.
“Perut kami lapar pak!” Aku menggebrak meja dengan keras. “Apakah harga dua tongkol jagung setara dengan nyawa bapak saya yang dihabisi oleh mereka?”
Petugas itu menatapku dengan mata nyalang, “Pencuri memang pantas dihukum. Sebaiknya kamu berhenti membuat keributan dan pergi dari sini.”
Apakah seorang bapak yang mati sebagai pencuri demi anaknya yang kelaparan tidak pantas mendapatkan keadilan?!” Nafasku tersengal-sengal, rasanya seperti aku berbicara dengan orang tuli. Petugas itu tidak akan mencap pemilik kebun sebagai pembunuh, dia hanya menghakimi arwah bapakku sebagai pencuri.
Pencuri serupa kunang-kunang yang pantas untuk mati.
Aku beringsut, menyeret tubuhku yang mulai terasa berat menuju televisi tabung di sudut ruangan. Benda tua itu seperti bangkai yang enggan dikubur; sudah berkali-kali Bapak mencoba menjualnya ke pasar loak, tapi para tengkulak hanya mencibir harganya. Kini, ia menjadi satu-satunya saksi bisu yang tersisa di gubuk ini.
Di tanganku, sebuah botol plastik kusam berisi cairan pekat sisa perjuangan Bapak di ladang dulu, sebotol racun serangga yang aromanya menyengat, yang dulu bapak semprotkan agar jagung-jagung tuan tanah tumbuh subur tanpa gangguan hama. Aku meneguknya pelan, sangat pelan, seolah cairan pahit itu adalah anggur merah paling mahal yang pernah diminum para pejabat di ibu kota.
Biasanya, televisi ini hanya mampu menampilkan tarian garis hitam-putih yang berisik. Bapak biasanya akan memukul bagian atasnya dengan emosi yang meluap, merutuki nasib sambil memaksa mesin tua itu agar mau bekerja lagi. Namun sore ini, televisi itu seolah mengerti bahwa waktuku tak banyak. Tanpa dipukul, ia menyala dengan jernih.
Layar itu menampilkan wajah seorang anak kecil. Berita sore melaporkan bahwa ia mengakhiri hidup karena beban biaya pendidikan yang tak sanggup dipikul orang tuanya. Aku tersenyum pahit. Racun di perutku mulai membakar, menciptakan api kecil yang menjalar ke paru-paru.
Benar, kan? Dunia ini memang tidak pernah dirancang untuk kami. Anak kecil itu, Bapak, dan aku. Kami semua hanyalah hama di mata mereka.
Kami adalah tumbuhan yang sejak awal memang ditakdirkan untuk layu oleh racun ketidakadilan. Tak ada gunanya merangkak menuju cahaya jika setiap jengkal tanah yang kami pijak sudah diberi pestisida oleh mereka yang berkuasa.
Aku menyandarkan kepala ke dinding kayu yang lapuk, menonton berita itu dengan ketenangan yang ganjil. Untuk pertama kalinya, aku merasa setara dengan dunia. Aku bukan lagi tumbuhan menjalar yang mengemis belas kasihan. Aku sedang dalam perjalanan menjadi api.
"Sebentar lagi, Mak dan Pak. Sebentar lagi aku sampai di tempat yang riuh itu," bisikku, tepat saat kesadaranku mulai tersedot ke dalam lubang hitam yang jernih, secerah layar televisi yang akhirnya menampilkan warna yang utuh.
Tamat
Modal Kecil Mimpi Besar
Cerpen oleh: Laras Sati
Di pagi itu ,di pasar tradisional mulai banyak orang berdatangan .dan suara tawar menawar mulai terdengar dari berbagai arah. Di sudut pasar, Asep berduduk di samping gerobak bakso sederhana milik ibunya.
"Ibu kenapa dagangan kita selalu sedikit dari yang lain?" Tanya Asep pelan.
Ibunya tersenyum. "Karena kita hanya punya modal sedikit, nak. Tapi bukan berarti kita tidak bisa berkembang."
Kata kata itu terus teringat di kepala Asep, ia melihat pedagang lain yang dagangannya lebih lengkap dan lebih menarik. Ia pun berpikir keras mencari cara agar jualan ibu nya bisa lebih laris. Suatu hari Asep mempunyai ide. Ia mulai menata bakso buatan ibu nya dengan lebih rapi dan menarik. Ia juga menuliskan Harga dengan jelas di sebuah papan agar pembeli mudah memilih dan melayani pembeli dengan ramah.
beberapa bulan kemudian gerobak bakso sederhana itu berubah menjadi kios besar. Penghasilan mereka meningkat dan Asep pun bisa kembali sekolah dengan tenang. Dari peristiwa ini dapat dijelaskan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh modal, melainkan usaha dan kesabaran.
Tamat
Masa-Masa Sekolah Yang Tidak Terulang
Cerpen oleh: Rizaldy Padlu
Namaku Indra. Aku cuma siswa biasa yang lagi ngerasain masa-masa sekolah. Menurutku sekolah itu bukan cuma tempat belajar aja, tapi tempat kumpul bareng temen-temen juga dan bikin kenangan.
Bel pulang udah bunyi, tapi kita ga langsung pulang. Masih duduk di halaman depan, nikmatin angin sambil ngobrol hal random yang seru kadang ada juga yang main hp.
"Besok ulangan mtk, udah pada siap nih?" tanyaku sambil main hp.
"Siap-siap aja dah, yang penting usaha," jawab mereka sambil ketawa.
Duduk gitu aja aku sempat mikir. Enak banget ya masa masa kaya gini. Tiap hari ketemu, main bareng, ngerjain tugas bareng, sampai ketawa lepas. Kita belajar banyak hal, dari sabar, berbagi, belajar maafin teman, dan banyak lagi.
Tapi aku sadar, waktu itu jalannya cepat banget. Kaya air yg mengalir, ngga bakal bisa balik lagi, nanti suatu saat, kita pasti bakal pisah jalan buat kejar cita cita masing masing.
"Eh, nanti kalo kita lulus, masih bakal ketemu ga ya?" tanyaku tiba-tiba.
"Pasti! kita temenan sampe sukses, bareng bareng ngumpul lagi," jawab mereka.
Aku senyum. Tapi tetep aja, suasana di sekolah ini, di bangku ini, ga bakal ada yang bisa gantiin. ga bakal terulang lagi.
Matahari mulai tenggelam, akhirnya kami siap pulang.
"Yuk, pulang bareng," kataku.
Soalnya aku udah tau, masa sekolah ini cuma datang sekali seumur hidup. Bakal jadi
kenangan indah yang bakalku rinduin selamanya.
Tamat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar